THE BAD DAY
Malam begitu gelap, segelap hatiku malam ini. Suara berbisik seperti keributan yang besar. Suara pintu terbuka pun seperti suara dentuman yang besar.
Mata terus menghadap layar laptop, dengan tangan kanan memegang mouse, dan tangan kiri menopang kepala. Terdapat beberapa lembar kertas yang dipangku.
Wajah yang cemberut dari pulang kuliah. Selama perjalanan pulang kepala ku sakit dan badan ku terasa lemah. Sampai kerumah saat azan magrib berkumadang. Dalam pikiran ku bagaimana menyelesaikan laporan ini. Aku begitu takut tidak dapat menyelesaikannya. Semakin aku pikirkan semakin aku takut hal-hal yang tidak dimungkinkan terjadi.
Semakin dipikirkan semakin aku merasakan kesal. Orang-orang yang berada didekatku bahkan terkena imbasnya. Seseorang yang tak pernah ingin memahami diriku membuat kusemakin kesal. Hati ini makin memanas. Aku ingin marah, marah sekali tapi sebelumnya terlintas dipikiran ku tentang pengalaman-pengalaman masa lalu. Ada dua akibat yang akan aku tanggung apabila aku marah yaitu aku disalahkan sehingga aku berbalik dimarahi yang akan menambah kemarahanku dan yang kedua akan menjadi perang dingin semuanya mendiamkanku. Yaa... walaupun aku sudah biasa dengan hal tersebut, walaupun hati tak sepedih yang dulu-dulu tapi rasa canggug itu yang sangat mengganggu.
Kemarahan yang tak terluapkan akhirnya air mata ini yang tumpah. Menangis sepuasnya sampai mata berhenti untuk mengeluarkan air, sampai pedihnya hati tidak terasa lagi, dan sampai pikiran kembali tenang.
Tak beberapa lamapun rasa itu hilang. Rasa marah makin memudar. Pikiran mulai dapat berpikir jernih. Bibir masih belum bisa untuk tersenyum lebar. Tapi ini luar biasa... aku biarkan emosi itu mengalir tetapi masih tetap dalam kontrolan. Selalu berpikir positif dan akhirnya tugas ku selesai...
Jangan biarkan emosi negatif menguasaimu bahkan mempengaruhimu. Coba untuk tenang dan mulai berpikir jernih secara perlahan. Jika saat itu rasanya ingin menangis maka menangislah hingga puas sampai rasa marah itu benar-benar hilang sampai hati ini benar-benar selesai untuk mengumpat karena menangis kodratnya manusia yang tak bisa disalahkan maka menangislah.


Komentar
Posting Komentar