Di kode Allah SWT

Pernah gak sih kalian ngerasa pengen nangis? Keinget kejadian-kejadian yang bikin kalian nangis.  Ya,  seperti ini yang aku rasakan.  Pengen nangis aja,  otak ini kayak sedang membuka album lama. Ku pikir diriku kurang mengingat sang pencipta dan ku putar sholawat-sholawat,  hati ini tambah perih karena rinduku pada keluarga dan nikmat Allah SWT yang terkadang buat aku kurang bersyukur kepadanya.

Hari ini sungguh aku sungguh tak enak hati, dikarenakan satu hal kejadian yang sangat kecil, kecil sekali kawan bahkan yang dulu pernah kualami sejak aku kecil.   Tapi entah kenapa setiap mengungkit-ungkit itu aku merasa balik lagi ke aku yang dulu.  Aku yang benci sama diriku sendiri. 

Sebenarnya itu tak bertahan lama,  aku mulai tak merasa sedih tapi ketika diam dalam kesunyian, otakku seperti membuka album lama yang seharusnya di delete. Hingga pada akhirnya sambil asyik mengetik menetes lah air mata. Sambil bisa dibilang bertanya,  mengumpat,  dll dalam hati,  kenapa aku bisa sampai dititik ini, kenapa dulu aku tak ini dan tak itu.  Kenapa harus terjadi padaku.  Pertanyaan-pertanyaan disaat diriku masih labil terulang lagi.

Sekarang aku duduk di bangku kereta yang tentunya bukan bangku prioritas.  Didepan ku berjajar orang berdiri.  Kulihat satu-satu ekspresi wajahnya. Laki-laki paruh baya membawa kantong plastik hitam sepertinya membawa makanan yang tercium seperti bakso, berdiri mengikuti ayunan kereta dengan mata terpejam sambil menikmati gerakan kereta terlihat letih sekali, mungkin dirinya telah bekerja keras hari ini dan tak sabar pulang kerumah ketemu keluarga untuk sama-sama menikmati rezeki yang ia dapat hari ini.

Wanita berdiri sekitar tiga langkah dari sang bapak paruh baya. Terlihat muda dan sepertinya orang kantoran yang sedang pulang kerja.  Sedang mengobrol dengan dua orang disampingnya sepertinya mereka teman satu kantor.  Terlihat serius ceritanya,  sepertinya mereka sedang berbagi keluh kesah tentang pekerjaannya.

Disampingku wanita berjaket berwarna coklat memakai headset,  sibuk dengan handphone.  Beberapa kali membuka galeri foto dan video. Geser kanan dan geser kiri kadang-kadang di zoom in dan zoom out ternyata yang dilihat ternyata foto anak kecil yang tertawa,  menangis, dan bertingkah lucu. Ternyata ia tak sabar sampai rumah rindu sama anaknya.

Ketika sedih kita sering ngerasa diri kita lah yang paling tak beruntung,  paling dan paling.  Tapi coba tegakkan kepala lihat orang sekitar banyak-banyak orang yang merasakan lebih dari apa yang kita rasakan.  Berat rasanya untuk menegakkan kepala karena mata udah penuh dengan air mata.  Maka, terpaksalah aku tahan karena malu.  Menangis didepan umum bukan hal yang baik di budaya masyarakat sini. 

Aku tau ini tak baik,  ku putar lagi sholawat,  dalam hati ku mulai berzikir menyebut namanya sang pencipta,  aku berdoa,  dan aku coba pejamkan mata. Aku ingat betapa baiknya Allah SWT kepada hambanya.  Seiring berjalannya waktu mulai berkurang dan rasanya seperti direstart ulang.  Kembali fresh seperti bangun tidur pagi. 

Sobatku,  ketika hati merasa tak nyaman, ngerasa hidup kok gini amat, dan umpatan lain kembalilah mengingat sang pencipta. Tahu kenapa kamu bisa seperti itu?  Itu Allah SWT udah mulai ngode sama kamu dia cemburu kamu perlahan-lahan udah mulai melupakanmu.  Dia sayang ke umatnya,  maka kembalilah kembali mengingatnya.

Komentar

Postingan Populer